Kondisi biofisik dan sosial ekonomi selatan P. Sumba, 2014

P Sumba cover

Pesisir selatan Pulau Sumba, Propinsi Nusa Tengara Timur menyimpan potensi sumberdaya alam yang tinggi meliputi terumbu karang, mangrove, pantai peneluran penyu, perikanan pelagis dan mega fauna (seperti paus, lumba-lumba dan hiu paus) serta keindahan alam pesisirnya. Survei biofisik dan sosial ekonomi di selatan Pulau Sumba telah dilakukan pada 25 Mei – 5 Juni 2014. Tujuan dari survei ini adalah untuk memetakan potensi sumberdaya kelautan dan pesisir meliputi data kualitatif dan kuantitatif pada karakteristik pantai, kondisi ekosistem terumbu karang, ekosistem mangrove, dan pantai peneluran penyu; serta kondisi sosial ekonomi masyarakat di pesisir selatan Pulau Sumba, khususnya Kabupaten Sumba Barat. Hasil kajian ini merupakan salah satu dasar dan masukan bagi pengembangan Kawasan Strategis Kabupaten Sumba Barat dan pengelolaan kawasan pesisir berkelanjutan sesuai dengan Perda Kabupaten Sumba Barat No. 1 tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Sumba Barat 2012-2013.

Terumbu karang di pesisir selatan P. Sumba pada umumnya ditemukan di mulut teluk (sisi kanan dan kiri teluk). Persentase penutupan karang keras berkisar antara 5 – 15% dengan rata-rata penutupan 10.4%. Substrat di dalam teluk berupa hamparan pasir, sedangkan substrat pantai yang berhadapan langsung dengan ombak (tanjung dan pantai-pantai di luar teluk) didominasi oleh rock. Kondisi ini adalah alamiah karena pesisir selatan yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia. Kuatnya hempasan ombak dan arus setiap saat menjadi faktor pembatas pertumbuhan karang. Ikan karang yang teramati juga tidak terlalu banyak, namun survei ini berhasil menambahkan dari survei sebelumnya di tahun 2008 oleh PT. Guteg Harindo dari 74 spesies menjadi 96 spesies.

Temuan lain yang penting adalah diduga kuat bahwa teluk-teluk sepanjang pesisir selatan Pulau Sumba merupakan ruaya dari berbagai jenis hiu. Terbukti dari hasil tangkapan tradisional nelayan dari Pantai Rua dan Weihura Kecamatan Wanukaka hingga Tarimbang di Sumba Timur yang mendapatkan anakan beberapa jenis hiu dari grey reef shark, sliteye shark, hammerhead hingga shovelnose ray/guitarfish.

Kabupaten Sumba Barat memiliki setidaknya 120 ha hutan mangrove yang terkonsentrasi di teluk-teluk yang memiliki muara sungai, dari Pantai Mambang hingga Pantai Weihura – Bali Loku. Sama seperti terumbu karang, vegetasi mangrove juga terbatasi oleh kondisi alamiah pantai yang berhadapan langsung dengan samudera.

Pantai selatan P. Sumba juga memiliki potensi peneluran penyu. Terdapat setidaknya 4 jenis penyu yang bertelur di kabupaten Sumba Barat meliputi penyu sisik semu, penyu hijau, penyu sisik dan penyu belimbing. Catatan ini melengkapi peta pantai peneluran penyu Indonesia, dimana sebelumnya belum ada catatan dari pesisir selatan P. Sumba.

Melihat karakteristik pantai yang bertebing dan berhadapan langsung dengan ombak, potensi wisata selancar (surfing) dan memancing (sport fishing) bisa menjadi atraksi wisata utama. Snorkeling dan wisata pantai berpotensi dikembangkan di teluk-teluk pasir putih, sedangkan wisata selam (diving) hanya berada di titik-titik tertentu seperti di Wanukaka dan Pinnacle depan Pantai Ngihiwatu. Itupun harus memperhitungkan musim yang baik pada saat tidak berombak.

Desa-desa pesisir yang menjadi pusat perikanan tangkap di kawasan ini adalah Desa Weihura dan Desa Rua di Kabupaten Sumba Barat, Desa Konda Maloba di Kabupaten Sumba Tengah, dan Desa Tarimbang di Kabupaten Sumba Timur. Perairan Konda Maloba merupakan fishing groundbagi hampir semua nelayan dari ketiga kabupaten ini, sekaligus tempat berlabuh kapal-kapal nelayan saat ombak tinggi. Yang menarik adalah, terdapat peningkatan jumlah nelayan, misalnya di Desa Rua. Masyarakat mulai menyadari bahwa laut mereka bisa menjadi sumber ekonomi yang menjanjikan.

Survei ini juga mencatat praktik-praktik tradisional sebagai bagian dari kearifan lokal dalam pengelolaan sumberdaya alam pesisir seperti Wulla Podu di Desa Hoba Wawi dan Repit di Tarimbang dimana terdapat pantangan untuk memanfaatkan sumberdaya alam pada bulan-bulan tertentu. Tradisi Hodu Tairi di Teluk Tangeiri yang berarti panen ikan teri dengan mengikuti aturan tertentu yang sejalan dengan prinsip-prinsip konservasi modern.

Masyarakat Sumba dikenal kaya dengan nilai-nilai budaya yang menghormati leluhur dan juga alam. Budaya pertanian dan peternakan masih melekat kuat pada masyarakatnya, termasuk yang tinggal di pesisir. Ini menjadi kekuatan pesisir selatan Sumba, dimana alam masih menyediakan kekayaan melimpah dan terdapat kearifan lokal dalam pengelolaannya. Di sisi lain, keterbatasan sumberdaya manusia, sarana dan prasarana, permodalan, dan budaya menjadi kendala utama pengembangan potensi pesisir dan lautnya. Walaupun terdapat peningkatan jumlah nelayan, namun hanya sebagian kecil saja yang memanfaatkan potensi pesisir yang melimpah, terutama potensi perikanannya. Terdapat pula ancaman seperti adanya nelayan dari luar dengan modal dan alat tangkap yang lebih besar, pengkaplingan lahan pesisir yang membatasi akses nelayan, dan juga ancaman hama atau penyakit pada budidaya rumput laut. Namun demikian, kesempatan untuk mengelola sumberdaya pesisir selatan P. Sumba masih terbuka, seperti mengoptimalkan rumpon, budidaya rumput laut, perbaikan sarana, prasarana dan modal serta pasar yang lebih luas, serta kesempatan untuk membuka peluang-peluang ekowisata. Dari hasil pemetaan masalah tersebut terdapat beberapa tantangan meliputi bagaimana meningkatkan sarana, prasarana, modal dan membuka pasar yang lebih luas, bagaimana menyelesaikan permasalahan pengkaplingan lahan, dan konsep atau perencanaan seperti apa yang bisa diterapkan di pesisir selatan Sumba yang bisa diterima oleh para pemangku kepentingan meliputi pemerintah, masyarakat dan sektor swasta dengan tetap menghormati nilai-nilai budaya dan hak-hak masyarakat.

Lapoaran bisa diunduh di bawah ini:

Kondisi biofisik dan sosial ekonomi selatan P Sumba 2014 – final report

Iklan

Tentang ME Lazuardi

Man from Kendal, Indonesia: Master of Development Practice Programme, James Cook University, Marine science & tech, Bogor Agricultural University (IPB), SMA 1 Kendal, SMP 1 Pegandon, Pondok Pesantren Roudhotul Tholibin, Madrasah Miftahul Atfal Penanggulan, SD 1 Pegandon, TK Mardi Putra Penanggulan,
Pos ini dipublikasikan di Jejaring Kawasan Konservasi Perairan, Publikasi dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s