Kepedulian

Kepedulian

Aku tidak  tahu apakah ada penelitian yang melakukan survey mengenai seberapa peduli penduduk suatu negara terhadap hal-hal seperti tidak membuang sampah sembarangan, berkendara dengan baik di jalan, membukakan atau menahan pintu untuk orang lain, tersenyum dll. Ada kali ya. Coba aja googling di yahoo, hehe.

Kalau dibilang rendahnya kepedulian lingkungan karena kemiskinan, aku gak sepakat. Perhatikan aja, banyak mobil mewah melaju, buka kaca jendela dan wuss.. kertas tisu, botol minum, plastik kresek terlempar sedemikian rupa.

Seberapa tinggi atau rendah, faktanya banyak sampah di sekitar kita. Banyak sampah di sepanjang trek pendakian gunung yang notabene yang mendakipun mengaku pecinta alam. Tragis kan.

Pernah aku nyetir dengan kawan, dan kawanku dengan santai buka kaca jendela trus mau buang botol minum. Buru-buru aku stop eee jangan-jangan. Dengan santai pula dia bilang, wah kalau di daerah sini dilarang yah. Kaget asli. Rupanya ada orang yang menganggap hal itu wajar apalagi selagi tidak ada larangan. Merasa bersalah pula diriku kenapa aku tidak mulai membagikan sikap kepedulian di lingkungan terdekatku.

Kalau lihat liputan banjir di tv. Mata tertumbuk pada sampah yang menghambat pintu air di sungai dan o em jiiii (kata anak2 sekarang)…. Sofa hingga kasur springbed nongkrong di sana. Orang mana yang begitu tega membuang di sungai macam begitu ya. satu bungkus permen aja miris, apalagi springbed je. Jelas orang tersebut tidak pedulian. Nah bisa jadi gak pedulian tentang sampah juga ada kaitannya gak pedulian di jalan. Limbung kanan limbung kiri tanpa lihat baik-baik pengemudi yang lain. Belok kanan lampu sein kiri masih nyala. Kalau diingetin marah dan kalau kita yang minta maaf mereka bisa lebih marah lagi, dianggap kalau dengan minta maaf berarti kita yang takut. Hehe, lucu yah.

Nah, gimana caranya ya membangkitkan kepedulian itu. Karena orang juga sebenarnya sadar kalau sampah bisa menyebabkan banjir, sarang penyakit dan secara estetis juga gak bagus. Mungkin karakter kita kali ya yang kalau belum kejadian, gak akan nyadar-nyadar. Atau tetep gak nyadar kalaupun dah kejadian. Nah, makin susah kan.

Mungkin solusinya memutus generasi tersebut dan mendidik generasi yang masih muda untuk lebih peduli. Hmm.. berarti caranya harus masuk ke sekolah-sekolah SD dan bikin program perubahan perilaku yang bener-bener tertanam bagi anak-anak tersebut.

Nah, contoh lagi. Saya pernah liat anak pake seragam pramuka buang sampah dari sepeda motor yang melaju. Kemungkinannya ada dua. Anak tersebut tidak pernah diajarkan peduli lingkungan dalam kepramukaan atau dasar anak tersebut yang tidak pedulian. Kalaupun ada program kepedulian lingkungan di sekolah, ini juga masih ada tantangannya. Kalau anak-anak tersebut kembali ke lingkungannya masing-masing, maka bukan tidak mungkin sifat kepedulian yang udah ditanam tersebut luntur.

Hmm… Aku pikir ini juga tanggung jawab pemerintah, atau kesadaran para bos pemilik tv dan para bos pemilik perusahaan penyumbang banyaknya sampah khususnya non-organik. Berhubung masyarakat kita adalah penonton TV, buatlah banyak-banyak iklan layanan masyarakat tentang kepedulian lingkungan, tentang sikap jujur, tentang sikap saling menghargai, tertib berlalu lintas atau bikin iklan layanan masyarakat yang menginformasikan bahwa cantik itu bukan berarti kulit putih mulus merona dan rambut lurus hitam berkilau.  Nah nah, kalau yang terakhir ini lain kasus lagi. Tapi layak dibahas ntar, hehe. Any idea?

*

Saya mengucapkan terima kasih banyak dan salam sejahtera buat para petugas kebersihan, dan pemulung di tempat sampah yang membantu menguraikan sampah organik dan non-organik untuk dimanfaatkan kembali.

Iklan

Tentang ME Lazuardi

Man from Kendal, Indonesia: TK Mardi Putra Penanggulan, SD 1 Pegandon, Madrasah Miftahul Atfal Penanggulan, Pondok Pesantren Roudhotul Tholibin, SMP 1 Pegandon, SMA 1 Kendal, Marine science & tech, Bogor Agricultural University (IPB), and Master of Development Practice Programme, James Cook University alumni
Pos ini dipublikasikan di Opini dan tag . Tandai permalink.

6 Balasan ke Kepedulian

  1. rwidiani berkata:

    setuju sekali Eerrr. pendidikan lingkungan patut dimasukkan ke kurikulum sekolah, begitu juga di keluarga. itu iklan cantik itu putih, tambah setuju aku. cantik itu datang di berbagai kemasan dan warna kok, spt jg ganteng atau cakep kekeke

    • melazuardi berkata:

      Trima kasih sudah berkunjung Reno. iya nih, paling ga, harus dimulai dari lingkungan terdekat yah. Kalau kamu balik ke IND, itu namanya iklan pemutih, kulit merona yang ketakutan sama matahari, rambut hitam luruuuus banget n berkilau lagi gencar2nya No.

      • rwidiani berkata:

        lhoo dari dulu itu Er, ya org kita kan standar cantiknya beda. dulu jaman FDC, banyak yg takut item. aku sih lbh milih nyelam drpd takut item kekeke… aku pernah tulis status di facebook, manusia tu gak ada puasnya. yg putih pingin gelap, yg gelap pingin putih pffff

      • melazuardi berkata:

        Wah iya ya, sbenernya dah dari dulu. cuma ko makin gemes ngliat begitu baru2 ini. mungkin karena baru pulang sekolah, jd pulang terkaget2 hehe. Bener si No, kalau ngomongin ga ada puasnya ga hanya di Ind aja yah.

  2. sisilia ceuceu berkata:

    hai R…
    belum bisa komen ttg tulisan.. ini ceu mampir ninggalin jejak….

    tetap semangat menulis ya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s