Mengawal pengelolaan secara efektif Kawasan Konservasi Perairan di Indonesia

Sejak berdirinya Kementerian Kelautan dan Perikanan, Indonesia telah mentargetkan pembentukan kawasan-kawasan konservasi perairan yang saat ini telah mencapai 17,98 juta hektar. Saat ini telah terdapat 165 Kawasan Konservasi Perairan. Ini adalah agenda nasional yang cukup ambisius untuk mengalokasikan 20 juta hektar sebagai Kawasan Konservasi Perairan (KKP) pada tahun 2020. Ini juga merupakan bagian dari otonomi daerah dimana pemerintah daerah berusaha mengelola sumber daya alam mereka sejak gerakan reformasi nasional pada tahun 1998. Selanjutnya, program ini juga menunjukkan bagaimana pendekatan-pendekatan top-down dan bottom-up dibangun dan dikombinasikan.

Namun, banyak tantangan dalam mewujudkan target pemerintah ini, khususnya bagaimana KKP efektif dikelola. Bahwa membangun KKP lebih mudah daripada mengelolanya. Ini adalah proses yang panjang dimana komponen manajemen seperti entitas pengelola, rencana pengelolaan dan penetapan zonasi, kegiatan dan pembiayaan berkelanjutan dikembangkan dengan pelibatan aktif stakeholder. Komponen pengelolaan tersebut untuk memastikan sumber daya alam terjaga dengan baik, serta memberikan manfaat sosial ekonomi bagi masyarakat. Perlu disadari bahwa kawasan-kawasan konservasi perairan saat ini belum efektif dikelola dan kebanyakan tahapan adalah baru ditetapkan dan dicadangkan.

Pengelolaan yang efektif pada dasarnya telah dirumuskan dengan penilaian 3 indikator utama yaitu biofisik, sosial ekonomi dan tata kelola. Indikator biofisik adalah adanya kawasan konservasi perairan mampu memelihara dengan ekosistem, habitat dan biota yang ada di dalamnya sebagai aset kapital alam. Bagaimana terumbu karang, padang lamun, mangrove dan biota laut di dalamnya dapat terjaga dengan baik. Indikator sosial ekonomi adalah bagaimana keberadaan KKP ini mampu memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat. Sedangkan indikator tata kelola adalah bagaimana intitusi pengelola berikut sumberdaya manusia, sarana dan prasarana, regulasi, program kerja dan pembiayaannya tersedia optimal.

Ketiga indikator ini juga sesuai dengan kerangka pembangunan berkelanjutan, dimana 5 aset kapital dilengkapi dengan perangkat kelembagaan dan regulasi yang mampu menghadapi aspek-aspek kerentanan ancaman dan tantangan perlu dibangun. Lima kapital aset itu sendiri meliputi aset sumberdaya alam, sumberdaya manusia, fisik, sosial dan finansial yang harus dipenuhi dengan baik. Kerangka pembangunan berkelanjutan ini bertujuan untuk terwujudnya keberlanjutan sumberdaya alam, manfaat atau pendapatan, ketahanan pangan dan daya lenting tinggi.

Menjadi tugas Iskindo dalam mengawal pengelolaan yang efektif yang sudah dirumuskan dengan baik ini.

Dari pengalaman pribadi saat saya memasuki bangku kuliah dan memilih Jurusan Ilmu dan Teknologi Kelautan (ITK) – IPB. Saat itu ranking jurusan ITK berdasarkan minat calon mahasiswa berada di papan bawah. Setelah berdirinya Departemen Eksplorasi Laut (saat itu – 1999), minat calon mahasiswa meningkat tajam dan jurusan ITK menjadi salah satu favorit di IPB. Ini dibarengi dengan kebutuhan besar adanya sarjana ahli bidang kelautan dan perikanan. Namun apakah sarjana kelautan terserap dengan baik di bidangnya? Ini juga perlu dikaji.

Kementerian Kelautan dan Perikanan menyatakan bahwa secara ideal setiap kawasan konservasi perairan dikelola paling sedikit dipimpin oleh seorang kepala kawasan, tiga staf teknis dan 25 – 30 tenaga fungsional. Maka dengan adanya 165 KKP saat ini diperlukan setidaknya 5.600 orang. Dengan jumlah tersebut maka rasio pengelolaan perorang adalah 1 : 3.210 ha. World Conservation Monitoring Centre menyatakan setidaknya rasio pengelola kawasan konservasi yang ideal adalah 1 : 3.100 ha. Dari rasio ini, jika 5.600 orang ini terserap dalam pengelolaan maka akan mendekati ideal.

Jadi sudah selayaknya ada program turun kampus untuk mendorong semangat mahasiswa mengisi peluang ini dan mendorong pemerintah untuk memprioritaskan sarjana Kelautan dan Perikanan dengan dipersiapkan sistematika kompetensi khusus perencanaan pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan.

Penyerapan tenaga ahli sarjana kelautan juga meliputi sektor-sektor khusus seperti ahli biologi laut, oseanografi, pemetaan dan lainnya yang mendukung dalam program-program pemantauan sumberdaya perairan dan sosial ekonomi pesisir serta penguatan perangkat regulasi dan penegakan hukum. Kurikulum di kampus harus mampu menjawab kebutuhan tersebut sehingga antara kebutuhan dan kompetensi mampu terintegrasi dengan baik, dan Sarjana Kelautan terserap di bidangnya dengan optimal. Di bidang teknologi dengan banyaknya program dan aplikasi app misalnya juga menjadikan peluang bahwa pengelolaan KKP bisa berbasiskan teknologi, sehingga teknologi kelautan pun harus mampu menjawab peluang tersebut.

Anggota Iskindo yang bekerja di lembaga non pemerintah diharapkan juga mampu menjadi mitra bagi pemerintah dalam mewujudkan pengelolaan yang efektif ini. Mendorong regulasi-regulasi yang mendukung pengelolaan, mengisi kesenjangan pengelolaan dan peningkatan kapasitas staf. Anggota Iskindo juga harus mampu bekerja di tingkat akar rumput dimana inisiatif-inisiatif masyarakat adat dan pesisir dalam konservasi, pengelolaan ulayat adat, praktik-praktik perikanan tangkap dan budidaya yang ramah lingkungan, ekowisata dan pengawasan sumber daya bisa diapresiasi dengan baik, diakui, dikuatkan dan diberdayakan. Karena sejatinya keterlibatan masyarakat seperti inilah yang ikut mendorong terwujudnya pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan secara efektif dan menekankan bahwa masyarakat mampu sebagai subjek pengelolaan daripada objek untuk dikelola.

Muhammad Erdi Lazuardi

Ditulis untuk buku Pokok Pikiran Iskindo – Evaluasi dan Akselerasi Poros Maritim Dunia

Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia

©Iskindo 2018

Iklan
Dipublikasi di Opini, Uncategorized | Tag | Meninggalkan komentar

Jumlah Pulau di Indonesia

Jumlah Pulau di Indonesia

“Jumlah pulau di Indonesia saat ini adalah 17.504 pulau”

1. Berdasarkan perhitungan Pushidrosal pada tahun 1982 dengan menggunakan peta laut Indonesia dari berbagai skala yang bervariasi serta hasil survey hidros, didapatkan jumlah sebanyak 17.508. Hasil perhitungan ini telah disampaikan dalam Rapim ABRI tahun 1987 dan selanjutnya dikukuhkan oleh Menhankam Pangab melalui surat Menhankam Pangab No. B/858/M/IX/1987 tanggal 9 November 1987 menjadi hasil ketetapan Rapim ABRI tahun 1987. Selanjutnya jumlah tersebut dikukuhkan dalam UU No. 6 tahun 1996.

2. Pada Penjelasan UU no 6 tahun 1996 tentang Perairan Indonesia, yang ditandatangani oleh Presiden RI Soeharto disebutkan bahwa..” dalam wilayah perairan Indonesia terdapat lebih kurang 17.508 pulau yang berada di bawah kedaulatan Negara Republik Indonesia”.

3. Berdasarkan keputusan The International Court of Justice (ICJ) pada tanggal 17 Desember 2002 yang menyatakan bahwa Kedaulatan atas Pulau Ligitan dan Pulau Sipadan dimiliki oleh Malaysia. Disamping itu sebagai akibat dari diakuinya oleh Majelis Permusyarakatan Rakyat Republik Indonesia atas hasil pelaksanaan penentuan pendapat yang diselenggarakan di Timor Timur tanggal 30 Agustus 1999 oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa sesuai dengan persetujuan antara Republik Indonesia dengan Republik Portugal mengenai masalah Timor Timur, serta tidak berlakunya lagi Ketetapan Majelis Permusyarakatan Rakyat Republik Indonesia Nomor VI/MPR/1978 tentang Pengukuhan Penyatuan Wilayah Timor Timur ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, sehingga lepasnya Provinsi Timor Timur menajdi Negara yang berdaulat yaitu Republik Demokratik Timor Leste (RDTL) maka secara politis Pulau Yako dan Pulau Atauro (Pulau Kambing) masuk Negara RDTL , oleh sebab itu jumlah pulau di Republik Indonesia berkurang 4 (empat) pulau menajdi 17.504 pulau.

4. Pada tahun 2012, Kadishidros mengeluarkan Surat Edaran nomor: SE/1241/ IV/2012 tanggal 10 April 2012 tentang Data Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pada Surat Edaran Tersebut disebutkan bahwa Jumlah Pulau saat ini adalah 17.499 pulau yang terdiri dari 13.466 pulau yang sudah diberi nama (berdasarkan data yang telah dibakukan oleh Tim Nasional Pembakuan Nama Rupa Bumi dari Sekretariat Tim Nasional Ditjem PUM Kemdagri yang telah melakukan survey dari tahun 2007 sampai dengan 2010. Pushidrosal merupakan salah satu anggotanya). Dan 4.033 pulau yang belum diberi nama.

5. Jumlah pulau menjadi 17.499 pulau dari sebelumnya 17.508 adalah selain 4 (empat) pulau hilang karena dampak perubahan kepemilikan akibat perkembangan politik (lepasnya P. Sipadan dan P. Ligitan juga P. Yako dan P. Atauto/Kambing), di perairan Teluk Jakarta juga diketahui ada 5 (lima) pulau yang hilang akibat abrasi yaitu Pulau P.Dapur, P. Ubi Kecil, P. Ubi Besar, P. Nirwana dan P. Ayer kecil di Kepulauan Seribu. Namun demikian sebenarnya dari hasil survey hidro-oseanografi yang dilakukan oleh Dishidros TNI AL, masih banyak di wilayah NKRI beberapa pulau yang hilang maupun muncul pulau baru akibat perubahan alam diantaranya adalah karena abrasi, tsunami maupun gempa bumi. Akan tetapi belum semuanya terdata dan terhitung.

6. Dari uraian di atas, disarankan untuk menggunakan jumlah pulau 17.504 pulau, dengan pertimbangan telah disebutkan pada UU RI dan pulau yang hilang mempunyai dasar hukum sebagai akibat keputusan politik. Untuk pulau-pulau lain yang hilang atau muncul pulau baru masih dalam proses perhitungan ulang tim nasional yang dikoordinir oleh Kemendagri (salah satu anggotanya adalah Pushidrosal). Jadi jumlah pulau saat ini adalah 17.504 pulau yang terdiri dari 16.056 pulau yang bernama dan 1.493 pulau tidak bernama. Sehingga yang dilaporkan ke PBB saat ini pada 30th session of the UNGEGN dan 11th Conference on the Standardization of Geographical Names pada tgl 7-18 agustus 2017 di New York adalah jumlah pulau yang bernama yaitu 16.056 pulau.

7. Demikian, semoga dapat dijadikan referensi.

Sumber:

Kapushidrosal (Kepala Pusat Hidrografi dan Oseanografi TNI Angkatan Laut)

note: Kalau terdiri dari 16.056 pulau yang bernama dan 1.493 pulau tidak bernama, seharusnya berjumlah 17.549 pulau, bukan 17.504?

Dipublikasi di Berita, quotes | Tag , , | Meninggalkan komentar

17 Oct, 8 years ago today

20160731_174236

Sekali kali membahas diri sendiri, bukan sustainable development. Tapi sustainable family kali ya :p.

Sedikit sentimentil mengingat 8 tahun lalu dan kini alhamdulillah masih bersama. Dengan diberi amanah 2 anak manis dan kehidupan dinamis kadang statis. Terima kasih ya Allah. tapi aku ungkap perasaan ini, tiap kata lewat the beatles.

Yesterday…
Since I Saw Her Standing There
I’ve Got a Feeling
…and I love Her

The Magical Mystery Tour
kind of Something
and Revolution
.. In My life
I Wanna be Your Man
I Will
Yes, it’s Real Love

Here Comes the Sun..
our Little Children
Come Together
enjoy Octopus’s Garden
Yellow Submarine
Strawberry Fields Forever

Thank You Girl…
though The Long and Winding Road
and Tomorrow Never Knows
We can Work it Out

Good Day, Sunshine
And in The End..
The Love You Take
is Equal to the Love You Make

Oh Darling… Dittaku
P.S. I Love You (more than the beatles)

Dipublikasi di Dream, Kutipan, Uncategorized | Tag , , | Meninggalkan komentar

Deep into nature

“Look deep into nature, and then you will understand everything better.”
-Albert Einstein

Dipublikasi di Kutipan | Tag , , | Meninggalkan komentar

Petualangan Bia – Si Biawak Cilik

Bagi para krucil Anda semua yang ingin mengenal Mangrove (hutan bakau) dan biota-biota yang menghuninya. Silakan diunduh komik produksi Mangrove Information Center – Denpasar kerjasama dengan Kementerian Kehutanan dan JICA (Japan International Cooperation Agency) tahun 2004 ini. unduh Komik – Petualangan Bia

Bia - biawak cilik

Saya senang bisa menjadi ilustrator dan salah satu penulis ceritanya. Sudah 12 tahun yang lalu, dan ingin saya hadirkan kembali di sini.

Kutipan dari Pak Hiroyuki Hatori, Chief Advisor Pusat Informasi Mangrove waktu itu:

Ini adalah buku cerita bergambar pertama yang dibuat oleh Pusat Informasi Mangrove kepada dunia. Jika kata ‘dunia’ itu berlebihan, saya dapat mengubah kata tersebut menjadi ‘untuk semua orang yang berbahasa Indonesia’. Cerita ini mengenai petualangan seekor biawak kecil yang bernama “Bia”. Bagi orang lain, petualangannya mungkin tak seberapa, tapi ini adalah petualangan pertama, yang menakjubkan dan membuka era baru baginya.

Mencari pengalaman dan mencari tahu tentang alam adalah hal yang penting dan langkah awal menuju pelestarian lingkungan. Seseorang mungkin berkata, “Sebegitu pentingkah mengetahui nama sebuah pohon? karena sekalipun Anda tidak mengetahui namanya, pohon-pohon tersebut tetap ada di sana. Disadari atau tidak, sejak awal manusia dilahirkan sudah hidup bersama alam. Manusia tidak bisa hidup tanpa adanya alam. Sehingga melindungi alam bukan saja bermanfaat untuk alam tetapi juga untuk kehidupan manusia itu sendiri.

Untuk melindungi sesuatu, kita perlu menyayanginya. Untuk menyayangi, kita perlu mengetahui namanya, seperti pepatah “Tak Kenal maka Tak Sayang”.

Sekarang giliran kalian! Ikutlah Si Bia yang dengan sedikit keberanian dan penuh rasa ingin tahu berpetualang ke laut – lautan pengetahuan!

==

 

Semoga bermanfaat.

Dipublikasi di Publikasi | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

Acropora suharsonoi

Acropora suharsonoi celukan bawang-MEL

Acropora suharsonoi. Foto diambil di Celukan Bawang, Bali utara, kedalaman 10 m. 5 Agustus 2015. Courtesy: Coral Triangle Center.

Dipublikasi di Gallery | Tag , | Meninggalkan komentar

Sebaik-baik manusia

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling memberi manfaat untuk orang lain.” – Muhammad Sang Nabi

Dipublikasi di Kutipan | Tag , | Meninggalkan komentar

Aku masih mencintaimu

Aku masih mencintaimu

Aku tulis ini kepadamu…
Tentu saja dengan segenap cinta

Duhai dikau

Yang membuatku benci tapi rindu
Yang membuatku malu tapi juga bangga
Yang membuatku jengah tapi juga nafsu
Yang membuatku gemas tapi juga geregetan
Yang membuatku marah tapi juga tak berlalu
Yang membuatku muak tapi juga tak berpaling
Yang membuatku sedih tapi juga tertawa
Yang membuatku tertawa tapi juga miris
Yang membuatku miris hingga menangis
Yang membuatku menangis dan bagaimana mau berbuat apa

Pergulatan ini selalu berujung tanya
Dengan segala kelebihan dan kekuranganmu
Tak bisakah sikapmu seelok parasmu

Oh, Indonesia negriku
Aku masih mencintaimu…

ME Lazuardi

Dipublikasi di Puisi, Uncategorized | Tag , , | Meninggalkan komentar

Publikasi

Nurcahyo, H., Siahaan, D.D., Wahyudi, Y., Purnawati, B.I., Nurhamdani, Lazuardi, M.E., Welly, M., Sanjaya, W., Ridzky, I.E., Cahyaningtyas, I., Petta, C. (2016). Manta rays (Manta sp.) in Nusa Penida MPA and Komodo National Park (in Bahasa Indonesia). Denpasar: BPSPL.

Welly, M., Lazuardi, M.E., Sanjaya, W., & Prasetya, D. (2016). The biophysical and socio-economic condition around the coast of Sumba Island, Nusa Tenggara Timur Province – 2015 (in Bahasa Indonesia). Denpasar: The Nature Conservancy. pdf

Welly, M., Lazuardi, M.E., Sanjaya, W., Prasetya, D. & Hendrawan, G. (2016). The biophysical and socio-economic condition around the coast of Bali – 2015 (in Bahasa Indonesia). Denpasar: Bali Province and The Nature Conservancy. pdf

Lazuardi, M.E., Welly, M., Sanjaya, W., Bassett, P., Mitchell, H., & Karyawan, N. (2015). The role of Nusa Penida MPA in manta rays conservation and tourism within the Lesser Sunda Ecoregion (in Bahasa Indonesia). Proceeding of Shark and Rays in Indonesia Symposium, 2015. Bogor: the Minister of Marine Affairs and Fisheries and WWF Indonesia. pdf

Lazuardi, M.E., Sanjaya, W., Hutasoit, P., Welly, M., & Subijanto, J. (2014). The biophysical and socio-economic condition in the south coast of Sumba Island, Nusa Tenggara Timur Province (in Bahasa Indonesia). Sanur – Bali: Coral Triangle Center. pdf

Mangubhai, S., Erdmann, M.V., Wilson, J.R., Huffard, C.L., Ballamu, F., Hidayat, N.I., Hitipeuw, C., Lazuardi, M.E., Muhajir, Pada, D., Purba, G., Rotinsulu, C., Rutmena, L., Sumolang, K., Wen, W. (2012). Papuan Bird’s Head Seascape: Emerging threats and challenges in the global center of marine biodiversity. Elsevier Marine Pollution Bulletin.

Comeros-Raynal, M.T., Choat, J.H., Polidoro, B.A., Clements, K.D., Abesamis, R., Craig, M.T., Lazuardi, M.E., McIlwan, J., Muljadi, A., Myers, R.F., Nanola Jr, C.L., Pardede, S., Rocha, L.A., Russell, B., Sanciangso, J.C., Stockwell, B., Harwell, H. & Carpenter, K.E. (2012). The Likelihood of extinction of iconic and dominant herbivores and detritivores of coral reefs: The parrotfishes and surgeonfishes. PLOS ONE.

Russell, B., Choat, J.H., Clements, K.D., Rocha, L.A., Myers, R., Muljadi, A., Lazuardi, M.E., Pardede, S. & Rahardjo, P. (2012). Calotomus viridescens. The IUCN Red List of Threatened Species 2012:e.T190689A17793547. http://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2012.RLTS.T190689A17793547.en

Choat, J.H., Russell, B., Clements, K.D., Rocha, L.A., Myers, R., Lazuardi, M.E., Muljadi, A., Pardede, S. & Rahardjo, P. (2012). Cetoscarus bicolor. The IUCN Red List of Threatened Species 2012: e.T190690A17793737. http://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2012.RLTS.T190690A17793737.en

Choat, J.H., Carpenter, K.E., Clements, K.D., Rocha, L.A., Russell, B., Myers, R., Lazuardi, M.E., Muljadi, A., Pardede, S. & Rahardjo, P. (2012). Chlorurus genazonatus. The IUCN Red List of Threatened Species 2012: e.T190758A17778943. http://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2012.RLTS.T190758A17778943.en

Lazuardi, M.E., Sudiarta, I.K., Ratha, I.M.J., Ampou, E.E., Nugroho, S.C., Mustika, P.L. (2012). Bali marine rapid assessment program 2011. Chapter 4: The status of coral reefs in Bali. RAP Bulletin of Biological Assessment 64. 2012. Conservation International.

Dimara, R., Fauzan, A., Lazuardi, M.E., Pada, D., Allen, G.R., Erdmann, M.V., Huffard, C.L., Katz, L.S. & Winterbottom, R. (2010). Pisces, Teleostei, Gobiidae, illustrated list of additions to the fauna of the Raja Ampat Islands, Indonesia. Checklist 6(4): 619–625.

Dipublikasi di Publikasi, Uncategorized | Meninggalkan komentar

Kita perlu museum karang

Ini sebuah mimpi negara kepulauan tropis yang paling banyak jenis karangnya. Dimana belajar identifikasi karang dengan tempat yang terkelola baik dan modern harusnya bisa negeri sendiri.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Dipublikasi di Dream, Opini, Uncategorized | Tag , , , , | Meninggalkan komentar